Februari 12, 2011

Law of Attraction

Posted in ungkapan pikiran pada 9:18 pm oleh syofuan

Dipercaya atau tidak, semua yang ada didunia ini telah diatur Allah SWT dengan begitu indahnya. Ada banyak misteri dibalik misteri, dan bila sedikit flash back memori ke belakang, semuanya bagaikan menarik kita kedalam suatu pusaran waktu yang ternyata saling berkaitan.

Entah benar atau tidak, teori saling ketertarikan (law of attraction), bila kita telaah lebih lanjut ada benarnya. Entah kebenaran itu hanya sebuah kebetulan ataukah bukan, hanya Allah yang maha tahu.

Belajar dari banyak cerita dan pengalaman, tidak ada suatu hal yang tidak mungkin, syaratnya : jika dan hanya jika kita benar-benar berusaha untuk itu.

Sebagai salah satu contoh kasus, kisah Andrea Hirata, yang kemudian sangat terkenal dengan tetralogi Laskar Pelanginya. Sebagai seorang anak kampung, yang nota bene kampungnya sangat jauh dari akses transportasi, terlebih lagi informasi & pendidikan, tetap tidak bisa menghalanginya untuk melanglangbuana ke eropa.

Belajar dari catatan B.J Habibie, tantangan dan cemoohan teman-teman dan petinggi bangsa ini untuk membuat pesawat hasil karya anak bangsa yang bisa terbang, bisa dijawab dengan kepala tegak. 10 tahun setelah tantangan itu diberikan,  si”Gatot Kaca” terbang diangkasa ikut memeriahkan pesta hari kemerdakaan bangsa ini.

Apapun mungkin, itulah poin utamanya. Pertanyaannya, apakah resep dibalik kemungkinan ini???Apakah rahasia dibalik rahasi yang membuat semua kemungkinan ini menjadi nyata???

Resep No 1. Niat

Mengapa niat menjadi yang pertama???

Niat adalah ruhnya suatu pekerjaan. Dalam Islam, niat adalah dasar diterima atau ditolaknya suatu amalan. Begitu pentingnya niat, sampai-sampai ditegaskan oleh Baginda Rasul beberapa kali dalam hadist-hadistnya.

Dengan niat, kita menamkan sebuah ide jauh didalam kepala kita untuk melakukan sesuatu. Semakin kuat niat itu, semakin dalam pulalah kita menanamkan ide tersebut dimemori kita. Efeknya, bagaikan sebuah goresan yang dituliskan diatas batu, semakin kuat dan dalam kita menulisnya, akan semakin nyata tulisan tersebut dapat terlihat.

Hanya dengan gambaran yang jelas kedepan (visi) yang mendalam, kita bisa membayangkan keberhasilan atau manisnya keberhasilan meraih sesuatu, dan itu akan menjadi sumber energi yang rasanya jauh lebih besar dari sumber energi apapun didunia ini, yang sepertinya tidak ada habisnya.

Oleh karena itu, luruskanlah niat kita. Fokus kepada pencapaian yang ingin kita raih. Rajutlah visi-visi kita kedepan dengan sebaik-baiknya.

Resep No 2. Kerja Keras

Kehidupan yang telah saya jalani lebih kurang 25 tahun ini, memberikan pelajaran nyata mengenai kerja keras. Tidak ada satu pun hal membanggakan yang bisa dengan mudahnya kita dapatkan.

Dulu waktu di masa sekolah, akan sangat bangga jika bisa maju ke podium sekolah setiap caturwulannya, sebagai jawara kelas.

Dulu, ketika masa perkuliahan, kepala bisa diangkat setinggi-tinggi nya jika bisa mendapatkan nilai A di matakuliah yang menebar ranjau D & E.

Sekarang, di dunia kerja, begitu bahagianya jika kita bisa memberikan solusi terbaik dalam penyelesaian masalah teknis dan non-teknis di pekerjaan kita.

Apa kuncinya, tidak lain adalah kerja keras.

Secara teoritis, nilai keberhasilan seseorang tentu akan berbanding lurus dengan sebarapa besar usahanya.

Bagaimana Rasullullah bisa begitu disayang Allah, lebih dari manusia lainnya didunia???karena Rasullullah selalu menyibukkan dirinya untuk beribadah kepada Allah, disaat kita tidur, dahulu Rasul terjaga, dan selalu beribadah . Jika kita hitung, jam kerja ibadah Rasul mendekati 24/7, atau sangat banyak dibandingkan manusia-manusia lainya.

Bagaimana B.J Habibie bisa begitu sukses dan terkenal dengan hukum “Crack” nya???karena usaha pantang lelahnya untuk terus belajar, bekerja dan selalu berusaha. Disaat yang lain telah terlelap dalam mimpi indah, beliau masih bekerja dan bekerja. Jika kita hitung, jam kerja Habibie, pasti lebih banyak dibandingkan koleganya.

Dapat ditarik kesimpulan, jam kerja yang lebih, bisa meningkatkan hasil. Atau bisa diterjemahkan menjadi : Usaha yang lebih, pasti akan memberikan hasil yang lebih baik pula.

Apakah yang bisa memberikan kita energi untuk terus dan terus bekerja???pastilah suatu bahan bakar yang tersedia dalam jumlah besar dan tidak pernah lekang oleh waktu.

Adakah sumber energi seperti itu didunia???ada…niat yang tulus ikhlas dan terpatri dengan kuatlah jawabannya.

Resep No 3. Doa

Mengapa doa begitu penting???bukankah usaha kita yang paling penting???

Usaha memanglah penting, tetapi sebagai manusia biasa, kita tidak luput dari kekurangan dan kekurangan. Disinilah peran doa, sebagai media berkeluhkesah, sebagai media sharing antara mahluk dengan penciptanya.

Dengan berbagi, beban dipundak kita akan menjadi lebih ringan. Dan sebagai side effect nya, kita mempunyai energi tambahan untuk berjalan lebih jauh, bahkan berlari.

Dengan 3 resep diatas, akan sangat mungkin bagi kita untuk melakukan segala sesuatu, dan disinilah kemudian teori ketertarikan ini menjadi sangat masuk akal. Believe it or not, selama kita bisa memenuhi ke-3 syarat diatas, insyaallah kita bisa.

Teringat sebuat motto dari seorang senior : “Success is a mind set, not just an achievement“…keberhasilan itu bermula dari sebuah pola pikir, bukan hanya sebuah pencapaian, karena pencapaian hanyalah sebuah awal untuk pencapaian-pencapaian selanjutnya.

 

*dari tepian “unfortunate river”, ditengah keramaian yang sunyi sebuah underconstruction project

 

 

 

 

Iklan

Februari 6, 2011

Mau jadi apa kita??? Kitalah penentunya…

Posted in ungkapan pikiran pada 2:33 pm oleh syofuan

Jakarta, sebuah kota dengan lansekap bebas, menjadi tujuan dari beragam etnik dan budaya yang bernaung dibawah kibaran “merah-putih” untuk menunjukan eksistensi dirinya. Cerita tentang keberhasilan dan gemerlap ibukota, telah mengusik banyak rasa penasaran untuk segera membuktikannya.

Memang benar kota ini dapat membawa kita pada puncak kepuasan, tetapi sebagai konsekuensi logisnya kota ini juga menuntut kesiapan kita untuk pulang dengan tangan hampa dan bahkan kehilangan banyak hal.

Yang perlu menjadi fokus perhatian kita adalah bagaimana cara kita untuk dapat hidup, bertahan, dan mengaktualisasikan potensi diri secara maksimal di kota ini.

Sebuah pelajaran bijak dari seorang kolega : “Jangan pernah menggantungkan hidup mu pada orang lain”, begitu kuat ingatan ku pada kata-kata itu, dan perenungan mendalam pun mengikutinya.

Benar, tidaklah mengada-ada pernyataan itu. Kita, memang tidak seharusnya menggantungkan nasib kita kepada orang lain. Nasib kita, ya hanya ada ditangan kita dan Allah.

Tidak ada alasan bagi Allah untuk mengangkat derajat kita, tanpa diimbangi dengan kepantasan dari kita untuk memperolehnya. Dan sebesar-besarnya usaha, jika tanpa diiringi doa, juga akan kurang maksimal.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berjuang, sekuat tenaga, tanpa kenal putus asa, ikhlas, dan juga dengan selalu diiringi oleh doa kepada-Nya, harapannya agar kehidupan kita diberikan kemudahan, kebahagiaan, dan ketenangan…Amieen

*ditulis ditengah keriuhan area “under construction” yang sepi, ditepian Kali Malang…2011

Maret 6, 2008

good interpersonal skills versus sikap penjilat, sebuah budaya kontradiktif dengan pemisah tipis…

Posted in ungkapan pikiran pada 9:48 pm oleh syofuan

jauh hari sebelum mengenal dunia kerja secara langsung, terbayang dalam benak ku, kedepannya karier kita akan sangat ditentukan oleh seberapa besar kontribusi yang kita berikan bagi perusahaan tempat kita benaung. kontribusi disini adalah kontribusi yang positif tentunya, sebagai kompensasi atas imbal-balik jasa yang selanjutnya kita sebut gaji, serta sebagai upaya untuk meningkatkan pencapain diri, dari hari ke hari.

setelah memasuki dunia nyata ini, ternyata kutemui banyak pembelokan serta muara yang berbeda dari imajinasi masa laluku. tidak semua yang kupikirkan dahulu salah, dan sebaliknya tidak sepenuhnya kutemui kenyataan mulus dilapangan yang membenarkan semua hipotesisku dahulu. semua berlabuh pada munculnya pertanyaan-pertanyaan seputar istilah interpersonal skill, tindakan pen-jilat-an, pembeda kutub positif dan negatif hati, serta sikap yang tepat untuk menghadapainya.

sebagai contoh kasus adalah komunikasi kita dengan teman-teman sejawat dan atasan. ada teramati dan indikasi pribadi bahwa beberapa personal bisa mendiami pos-pos strategis lebih dikarenakan komunikasinya yang baik, atau yang sering disebut anak-anak psikologi sebagai good interpersonal skills, khususnya kepada tokoh-tokoh sentral yang memiliki kuasa penuh di lingkungan tersebut.

pengalaman bersinggungan langsung dengan fenomena-fenomena tersebut, membawaku pada suatu posisi dilematis, semangat “ke-mahasiswa-an” yang menuntut kearah idealis, dan pengakuan kekalahan yang berujung pembenaran mahzab-mahzab baru dunia hati.

Hati Nurani

sejujurnya aku sendiri belum bisa membedakan apakah ini (good interpersonal skills) adalah sifat positif dari dalam diri yang perlu kita pupuk dan kembangan, ataukah hanyalah merupakan muka baru dari penyakit lama manusia, penjilat, yang setidaknya telah hadir hampir bersamaan dengan kebudayaan tertua muka bumi.

istilah “good interpersonal skills” sendiri belum dapat aku resapi maknanya secara gamblang, tapi setidaknya bayangan mengenai cara berkomunikasi yang optimal, serta metode pribadi untuk menciptakan hubungan baik serta image bahwa kita adalah “orang baik” dan “berpotensi”, telah muncul dibenakku. tetapi, tantangannya adalah, apakah hal-hal baik tersebut harus didapatkan dengan cara berpura-pura atau dengan ucapan-ucapan manis yang menurut beberapa orang termasuk dalam mahzab “asal bapak senang” ????

tidak … tidak … tidak seperti itu seharusnya. menurut hematku sebagai seseorang yang berpikiran cukup logis dan sederhana (setidaknya itulah yang ku punya dari sekian lama menimba pengalaman), sikap- sikap terpuji seperti menjalin hubungan yang baik antar sesama tidaklah harus membeda-bedakan yang mana atasan dan yang mana bawahan. memang benar jika kita harus hormat dan sopan, wabil khusus terhadap atasan, tetapi tidaklah dibenarkan jika hal yang sama tidak kita lakukan terhadap orang-orang yang nota bene posisinya dibawah kita.

perlakuan yang sama rata akan mengindikasikan bahwa kita tidak pilih-pilih, atau dapat juga dikatakan bahwa kita tidak berpedomankan mahzab “asal bapak senang” tadi dan juga bukan bagian dari kaum “penjilat”. sikap mental seperti inilah yang selayaknya kita tiru serta kita kembangakan demi kemajuan bersama, dan setidaknya inilah salah satu gambaran nyata frasa good interpersonal skills yang benar.

masih banyak cara mulia yang dapat kita tempuh untuk menciptakan hubungan harmonis dalam lingkup familia pekerjaan, tanpa harus terjebak pada dunia pen-jilat-an, yang tidak hanya dilarang agama tetapi juga di benci manusia. tindakan moral dasar yang bisa dilakukan untuk meningkatakan kemampuan antar-pribadi (interpersonal skills) antara lain adalah memulainya dengan budaya senyum yang telah diajarkan Rasullullah, hingga ke menjaga kesucian hati dalam berpikir, berkata, serta bertindak.

Maret 4, 2008

TransJakarta, solusi yang masih mencari jati diri…

Posted in ungkapan pikiran pada 6:55 am oleh syofuan

hidup dan dapat mereguk hawa ibukota mungkin merupakan harapan bagi beberapa manusia Indonesia, tapi tidaklah demikian bagi beberapa yang lainnya. ibukota yang merupakan urat nadi perekonomian bangsa, tempat ratusan suku bangsa bercampur baur mencari penghidupan, ternyata juga menimpan sejuta problematika dan permasalahan. mulai dari masalah pengangguran, tindak kriminal, polusi, hingga ke masalah kemacetan.

pada awal kelahirannya, jakarta, memang telah banyak menyita perhatian manusia. mulai dari kalangan pribumi, kaum barat, suku cina dan pedagang gujarat telah melirik daerah ini. lokasi yang strategis, karena berada diperairan tenang laut jawa, menambah daya tarik tersendiri bagi kota ini. tak heran, presiden soekarno juga memilih kota ini sebagai pusat pemerintahannya.

sebagai seorang ahli sipil, presiden soekarno, setidaknya telah merencanakan pembangunan ibukota. hal ini dapat dilihat dengan lansekap beberapa wilayah di jakarta yang telah diatur (Gambar 1).

Pancoran

tidak tahu apa sebabnya, lansekap yang telah direncanakan tersebut kini tergerus menjadi kesemerawutan yang terarah (Gambar 2).

Pancoran Sekarang

salah satu akibatnya yang tidak dapat terelakkan adalah kemacetan. kemacetan saat ini telah menjadi makanan sehari-hari warga jakarta. selain membawa dampak psikologi yang menghasilkan stres, ternyata masalah kemacetan ini juga turut membantu menghabiskan cadangan minyak dunia (menurut survei, ternyata jumlah konsumsi bahan bakar tinggi akibat kemacetan di jalan).

pemda DKI kemudian meluncurkan program yang dislogankan dapat mereduksi angka kemacetan di jakarta. program ini diberi tajuk “busway-TransJakarta”. dengan menelan dana yang tidak sedikit, program ini bergulir.

TransJakarta

secara umum, program ini memang telah mampu menghadirkan solusi angkutan umum yang cukup bermanfaat, tetapi rentetan masalah yang dibawanya juga tidak kalah banyak. mulai dari penyempitan jalur, tambahan kesemerawutan di jalanan, dan pelayanan yang belum maksimal.

untuk poin yang terakhir, tampaknya solusi yang di hadirkan TransJakarta belum dapat dikatakan sebagai mode transportasi masal yang manusiawi. bayangkan saja, hanya untuk mencapai lokasi-lokasi yang tidak terlalu jauh konsumen akan dihadapkan pada antrian yang panjangnya lumayan menyita waktu dan energi.

belum lagi dukungan fasilitasnya yang cenderung menurun, yang dahulunya setiap bus dilengkapi dengan mode pengingat lokasi halte, kini sebagian besar armadanya sudah tidak mengoperasikan fitur itu lagi. dahulu yang dikatakan penggunaan bahan bakar gas sebagai satu solusi aman, kini telah memakan korban satu bus terbakar. ditambah lagi masalah selternya yang jauh dari nyaman, terutama pada saat jumlah konsumen puncak.

setidaknya masih banyak poin yang harus dibenahi agar solusi ini mempunyai arti maksimal. TransJakarta, harapannya kedepan telah mempunyai jati diri yang tegas, mengenai posisinya sebagai alternatif pilihan mode trasnportasi warga ibukota

 

Maret 1, 2008

Psikologi, pengkotak-kotakan manusia yang penuh arti…

Posted in ungkapan pikiran pada 9:58 am oleh syofuan

assalammualaikum wr. wb.

bicara tentang psikologi, paling tidak yang terbayang adalah ilmu pastinya “paranormal modern”. tidak begiu banyak yang diketahui kebanyakan orang indonesia tentang ilmu yang satu ini, walaupun demikian mungkin satu dua istilah dibidang ini telah cukup populer.

mengingatkan pada percakapan semalam, dengan salah satu orang spesial yang dihadirkan Allah di muka bumi ini, ternyata psikologi sangat menarik untuk didalami. bukan hanya sebagai sebuah “ke-isengan” yang berhadiah sukses, tetapi juga sebagai salah satu jalan untuk lebih mengembangkan diri.

sang pemikir…secara etimologis, kata psikologi (-psychology) terbentuk dari padanan kata dalam bahasa yunani -psyche yang berarti jiwa, dan kata -logos yang berarti ilmu atau pengetahuan, yang jika dikombinasikan akan mempunyai makna sebagai suatu cabang ilmu atau pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.

seiring dengan perkembangan peradaban manusia di jagat bumi, cabang keilmuan yang satu ini juga semakin memantapkan dirinya. satu hal yang masih agak tertinggal mungkin adalah perbedaan argumen mengenai core keilmuan bidang ini sendiri, sebagian mengelompokkan cabang ini kedalam lingkaran ilmu pasti dengan alasan kedekatan hubungan dengan dunia medik (kedokteran jiwa), sebagian lagi lebih memilih keberadaan ilmu ini dibawah bingkai pemikiran murni para filosof, masuk ke rancah sosial.

dengan tanpa mengurangi daya magnet yang ditimbulkan oleh bidang ini, perbedaan argumen tadi hanyalah suatu penambah cita rasa tersendiri dan tidaklah sepatutnya terlalu diperdebatkan.

bagi kalangan praktis, ilmu psikologi cukup penting untuk didalami. berdasarkan kepada kenyataan bahwa manusia selalu “bertarung” dalam kehidupannya, maka akan jauh lebih baik jika pengenalan terhadap diri, kekurangan-kekurangan diri, dan pola-pola “calon lawan-lawan” dilakukan sejak sedini mungkin. bukannya mengarah pada suatu “persaingan tidak sehat”, akan tetapi “manajemen” diri dan konflik-lah arah dari tujuan pembelajaran ini.

karena kuluasan skop keilmuan dan permintaan yang terus menerus bertambah semakin menbuat cabang kelmuan ini semakin kompleks. satu-dua praktisi keilmuan ini mulai menggerakan pikiran dan waktunya pada fragmen-fragmen kecil dari skop psikologi yang luas, dengan harapan akan semakin mengefektifkan energi didalamnya.

sekali lagi, manusia sebagai objek, dikotak-kotakkan. berbagai istilah pengelompokkan sifat-sifat manusia terus bermunculan. nama-nama seperti “sanguin”, “koleris”, “plegmatis”, dan “melankolis” adalah salah satu produknya, dan masih banyak lagi istilah-istilah “serupa-tak-sama” lainnya diluar sana.

memang tidak menyalahi satu kode etik apapun manusia di-klasifisikasi-kan berdasarkan sifat-sifat dominannya seperti contoh diatas. tetapi, yang paling penting dan mendasar untuk selalu diingat adalah tujuan dasar dari pengenalan ilmu ini, yaitu untuk “manajemen diri” dan “manajemen konflik”.

seperti kata petuah cina : “kenali-lah dirimu, lalu kenali-lah musuhmu, niscaya kamu akan memenangkan setiap pertempuran didepanmu”

Februari 23, 2008

mekanikal-elektrikal, sebuah ihtisar ilmu pasti…

Posted in ungkapan pikiran pada 12:33 pm oleh syofuan

 berpikir

mendengar kata mekanikal-elektrikal tentunya membangkitan ingatan kita akan listrik dan mesin. ya setidaknya itulah gambaran nyata makna kata ini bagi sebagian besar warga indonesia. bukanlah suatu kesalahan yang perlu dicari pembenarannya, akan tetapi core ilmu mekanikal dan elektrikal yang telah begitu populer dikalangan masyarakatlah yang telah membentuk gambaran tersebut.

tentunya bila dilakukan kajian yang lebih konprehensif mengenai bidang keilmuan ini, sejujurnya masih banyak frase kata yang dapat diperoleh untuk menjelaskannya. antara lain adalah kebenaran bahwa bidang ini merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari yang namanya gejala fisika dalam kehidupan.

ilmu yang paling pertama dikenal manusia mungkin adalah kemampuan akan perhitungan, bahasa dan filosofi, tetapi pada kenyataannya ilmu yang paling erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari adalah ilmu fisika.

bagaimana tidak???mulai dari kita berjalan, berlari, ataupun diam dapat dianalisis secara fisika. objek kajian yang terus menerus berkembang dan semakin kompleks menyebabkan manusia berusaha membagi-bagi atau mengklasifikasikannya dalam model-model yang lebih sederhana. muncullah yang kemudian namanya ilmu mekanikal, dan elektrikal.

setelah mengalami kemajuan besar dalam perkembangannya, ilmu2 ini sekarang masuk dalam suatu kegundahan dan dilema karena kesulitan bergerak dan fleksibilitas yang semakin berkurang lantaran tugas besar core keilmunya yang dahulu dianggap sebagai spesialisasi.

elektrikal dengan core pembangkitan dayanya telah menyita sebagian besar waktu dari civitas akademika-nya dan memiliki kecenderungan untuk menghambat pengembangan kajian kearah yang lebih praktis. Begitu juga mekanikal, dengan paradigma di masyarakat akan kapabilitasnya dalam hal mesin, otomotif, dan mesin industri, telah menyita mempalingkan perhatian besar mereka akan hal2 yang lebih praktis.

dalam sebuah bagian fragmen kehidupan, sebenarnya dunia mekanikal-elekrtikal tidaklah sewajarnya dipisah-pisahkan. sebenarnya mereka adalah satu kesatuan yang utuh, yang jika kita menguasainya secara maksimal dapat membantu meringankan beban pekerjaan manusia secara umum, yang lebih familiah dengan istilah engineering.

memang, dalam paradigma pendelegasian tugas dan efektifitas kerja, spesialisasi sangat berperan. tetapi, jika pengkotak-kotakan tersebut malah tidak membawa ke arah yang lebih menyejukkan ditataran “akar rumput”, sudah sewajarnya kita mencoba merenung lebih dalam.

seorang engineer hebat yang benar adalah engineer yang bisa menghasilkan solusi brilian terhadap permasalah yang dihadapkan padanya. “cukup dokter saja yang mengkotak-kotakkan diri mereka dalam titel spesialis, kita para engineer tidak perlu latah untuk ikut-ikutan”, ucap seorang engineer hebat dalam salah satu wejangananya padaku.