Februari 14, 2011

Pengkondisi Udara (Air Conditioning) – Catatan Seorang Engineer (1)

Posted in Catatan Seorang Engineer pada 10:10 pm oleh syofuan

Perubahan cuaca yang ekstrim belakangan ini semakin memicu manusia untuk berlomba-lomba menciptakan lingkungan yang nyaman bagi mereka. Terlebih di kota-kota besar, yang nota bene temperatur lingkungan (ambient) lebih tinggi bila dibandingankan dengan temperatur ambient di lingkungan kampung atau pedesaaan.

Belum lagi tren bangunan yang lebih memilih bentuk “meninggi” dari pada “meluas”, karena keterbatasan lahan, menyebabkan bertaburannya bangunan-bangunan tinggi (high rise buiding), hingga ke level gedung pencakar langit.

Sebagai konsekuensi logisnya, dibutuhkan teknik yang dapat membuat lingkungan baru (rumah, high rise building, ataupun gedung pencakar langit) agar nyaman untuk ditempati.

Pengkondisian udara, atau yang lebih kita kenal dengan istilah air conditioning (AC), adalah salah satu upaya akal budi manusia untuk membuat ruangan menjadi lebih nyaman secara termal, dengan jalan menghilangakan panas laten udara ke lingkungan luar dengan bantuan siklus refrigerasi (pada umumnya) atau dengan evaporasi, adalah salah satu jawabannya.

AC masuk dan dikenal untuk bangunan tinggi di Indonesia pertama kali pada proyek pembangunan Hotel Indonesia, tahun 1961. Pada saat itu, bidang pengkondisian udara ini belum banyak dipelajari, apalagi dikembangkan.

Setelah sekian dasawarsa berlalu, bidang yang spesifik untuk mempelajari pengkondisian lingkungan atau yang di luar lebih dikenal dengan Heat, Ventilating & Air Conditioning (HVAC) ini telah semakin berkembang dan semakin mapan ditataran disiplin ilmu teknik atau rekayasa.

Siklus refrigerasi adalah salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk pengkondisian udara. Siklusnya sederhana, melibatkan kondenser, katub ekspansi (expantion valve), evaporator dan kompressor.

Evaporator adalah bagian yang berfungsi untuk mengambil panas laten dari udara dalam ruangan. Panas laten udara dalam ruangan digunakan untuk memanaskan refrigerant cair hingga menjadi uap.

Uap refrigerant ini kemudian diteruskan ke kompressor, disini uap refrigerant dinaikkan tekanannya melalui proses kompresi.

Setelah tekanannya naik, uap refrigerant lalu masuk ke kondensor. Di kondensor, uap refrigerant berubah fase manjadi cair dengan melepaskan panas ke lingkungan luar.

Keluar dari kondensor, refrigerant cair ini menuju expantion valve untuk diturunkan tekanannya. Selepas dari expantion valve, refrigerant kembali masuk ke evaporator, dan begitulah siklus ini terus-menerus berulang.

Ada beberapa jenis alat pengkondisi udara / AC yang relatif sering kita jumpai, antara lain:

1. AC Windows

Sesuai dengan namanya, windows, maka AC ini letaknya di jendela. Pada unit AC ini, semua komponen siklus refrigerasi terletak dalam satu paket. Itulah salah satu kelebihan AC jenis ini, bentuknya yang compact, karena semuanya tergabung dalam satu paket.

Tetapi, karena semua komponen terletak dalam satu paket ini juga, AC jenis ini membutuhkan ruang yang relatif besar (minimal sebesar jendela), akibatnya harus ada bobokan dinding yang besar. Selain itu, AC ini juga relatif bising, karena komponen yang menyumbangkan kebisingan (kompressor) ada didekat kita (user).

2. AC Split

Sesuai namanya, split, konsep utama AC jenis ini adalah memisahkan antara bagian siklus yang bisa ditoleransi untuk penempatan didalam ruangan, dengan bagian yang relatif tidak tepat untuk berada di dalam ruangan (karena bising atau menjadi sumber panas).

Di sistem AC ini dikenal bagian AC yang ditempatkan didalam ruangan (indoor unit), dan bagian yang diletakkan di luar ruangan (outdoor unit).

Bagian indoor unit, hanya berisikan komponen evaporator. Sedangkan bagian outdoor unit, berisikan kompressor, kondenser dan expantion valve.

Antara indoor dan outdoor unit, dihubungkan oleh pipa tembaga (copper pipe) yang besar dan panjang maksimalnya relatif terhadap besar kecilnya kapasitas pendinginan AC tersebut.

AC Split juga terdiri atas beberapa tipe, antara lain :

a. AC Split Wall


Sesuai namanya, AC jenis ini menempel di dinding (wall). Jenis AC ini paling cocok untuk rumah tinggal (residential), kamar hotel, ataupun apartemen.

b. AC Split Ceiling Casette

AC tipe ini digunakan untuk mengakali minimnya ruang dalam plafon. Paling cocok untuk ruang pertemuan, restaurant, ruang tunggu, dll.

c. AC Split Ceiling Suspended

AC ini bentuknya menyerupai tipe Wall, tapi sebenarnya ia menggantung di langit-langit (ceiling suspended). Paling cocok untuk ruang pertemuan, restaurant, dll.

d. AC Split Floor Standing

AC ini bentuknya menyerupai tipe Wall, tapi sebenarnya ia berdiri diatas lantai (floor standing). Paling cocok untuk ruang pertemuan, restaurant, dll.

e. AC Split Duct

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: